Ternyata Spons Cuci Piring 200.000 Kali Lebih Kotor Dari Dudukan Toilet!

Bookmark and Share

 

Banyak orang mengira tempat terkotor di rumah itu pastilah kamar mandi atau toilet namun studi baru dari AS mengklaim bahwa ada salah satu peralatan rumah tangga yang lebih kotor dari dudukan toilet sekalipun yaitu spons cuci piring. Bahkan spons ini dikatakan 200.000 kali lebih kotor daripada dudukan toilet.


Parahnya lagi, para pakar menyatakan bahwa bakteri yang ditemukan di dalam spons dan telenan itu bukanlah sembarang bakteri tapi bakteri yang berbahaya dan dapat menyebabkan paralysis atau kelumpuhan.

Secara mendetail, studi baru ini mengungkapkan ada 10 jutaan bakteri pada setiap inci spons cuci piring. Bahkan peneliti mengklaim lebih baik orang-orang memotong sayuran di atas dudukan toilet ketimbang di atas telenan yang dipenuhi bakteri itu.

"Justru dudukan toilet itu salah satu barang terbersih yang ada di rumah jika dilihat dari susunan mikroorganismenya. Saya malah lebih khawatir dengan peralatan rumah tangga lainnya seperti spons cuci piring dan tas belanja yang bisa dipakai berulang-ulang," terang Dr. Charles Gerba, profesor mikrobiologi dari University of Arizona yang memimpin studi ini.

Sepakat dengan Gerba, Profesor Hugh Pennington, salah satu pakar mikrobiologi terkemuka di Inggris menyatakan dapur dan khususnya spons cuci piring adalah barang paling kotor yang ada di rumah.

"Tak masalah jika spons itu digunakan untuk mencuci piring dan menyingkirkan sisa makanan dari piring kotor tapi jangan pernah menggunakan spons semacam itu untuk membilas piring yang sudah bersih," tutur Pennington.

Menurut Pennington, salah satu bakteri yang patut disalahkan atas kondisi ini dikenal dengan nama campylobacter. Bakteri ini dapat menyebabkan kelumpuhan dan banyak ditemukan pada spons cuci piring yang ada di dapur-dapur.

"Bakteri ini berasal dari hewan ternak dan bisa mengakibatkan sindrom Guillain-Barre. Bahayanya, penyakit ini dapat menyebar ke saraf perifer di sekitar otak dan mempengaruhi pergerakan seseorang hingga suatu ketika ia bisa menjadi lumpuh," ungkapnya seperti dikutip dari Daily Mail, Kamis (22/11/2012).

Beruntung sebagian besar penderita sindrom ini bisa sembuh meski proses pemulihannya menghabiskan waktu hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

sumber

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar